“Tapi bagi saya, saya kira film itu masih ringan dibanding kenyataan yang ada dewasa ini, masih tidak semuanya. Mungkin baru 25 persen,” kata Jusuf Kalla. Pernyataan ini menegaskan pandangan JK bahwa sementara ‘Dirty Vote’ telah membuat langkah penting dalam mengungkapkan praktik kecurangan, masih banyak aspek lain dari masalah tersebut yang belum terungkap sepenuhnya.

Dhandy Dwi Laksono, sutradara film ‘Dirty Vote’, melalui karyanya berusaha memberikan wawasan kepada publik mengenai tantangan dan masalah yang dihadapi dalam menjaga integritas proses pemilu di Indonesia. Film ini menggabungkan wawancara, rekaman langsung, dan analisis data untuk menggali lebih dalam mengenai isu kecurangan yang merusak demokrasi.

Dirty Vote
Tangkapan layar Film Dirty Vote yang dibintangi Zainal Arifin Mochtar,Feri Amsari, dan Bivitri Susanti. Ketiganya bergantian menjelaskan berbagai upaya sistematis dalam memenangi Pemilu 2024. (YOUTUBE)

Film ‘Dirty Vote’, yang mendokumentasikan dugaan kecurangan selama proses pemilu, telah menarik perhatian publik dan menjadi topik diskusi hangat mengenai integritas pemilu di Indonesia. Komentar JK menambahkan dimensi baru dalam percakapan ini, menyoroti jarak antara penggambaran dalam film dan kompleksitas kecurangan pemilu di lapangan.