BGN Bangun Revolusi Dapur Sehat Lewat Pelatihan Penjamah Makanan di Bitung
katamerdeka.com – Bukan sekadar belajar soal cara memasak yang higienis, pelatihan penjamah makanan yang digelar Badan Gizi Nasional (BGN) kali ini membuka wawasan baru bagi para pengelola dapur gizi di Kota Bitung: bagaimana mengubah sisa makanan menjadi sumber manfaat baru.
Bertempat di Hotel Nalendra, Minggu (28/9/2025), kegiatan ini diikuti perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari delapan kecamatan. Suasana pelatihan terasa hangat penuh antusiasme dan rasa ingin tahu.
Pada sesi awal, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bitung tampil sebagai narasumber. Kepala DLH, Meriyanti Dumbela, dengan penuh semangat mengajak peserta berpikir ulang tentang sampah dapur.
“Tidak semua sampah harus dibuang ke tempat pembuangan akhir,” tegas Meriyanti. “Mulailah dari pemilahan. Dari DLH, kami mendorong agar setiap SPPG punya tiga lubang tanah untuk mengolah sisa sampah produksi menjadi pupuk kompos.”
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah dari sumbernya merupakan kunci utama agar volume sampah di TPA berkurang drastis. Menurutnya, hanya 5–15 persen residu yang benar-benar perlu dibuang, sementara sisanya bisa diolah kembali organik menjadi kompos, dan nonorganik ke bank sampah.
“Sisa makanan dari dapur SPPG sebenarnya emas yang tersembunyi. Kalau diolah dengan benar, bisa jadi pupuk bernilai ekonomi,” tambahnya sambil tersenyum.
Selain soal lingkungan, pelatihan ini juga berfokus pada peningkatan kualitas dan keamanan pangan. BGN menghadirkan materi tentang higiene, sanitasi, serta prinsip keamanan pangan, yang menjadi fondasi penting dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program MBG tidak hanya tentang menyediakan makanan sehat, tapi juga memastikan setiap piring yang disajikan aman dikonsumsi dan bermanfaat bagi penerima. Melalui pelatihan ini, para penjamah makanan dilatih untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga mutu gizi masyarakat.
Pelatihan diakhiri dengan sesi tanya jawab dan praktik sederhana pengelolaan sisa makanan menjadi kompos. Para peserta pulang bukan hanya membawa ilmu baru, tetapi juga semangat untuk menjadikan dapur SPPG lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Dari dapur untuk bumi, dari sisa untuk manfaat,” tutur salah satu peserta dengan bangga.








Comment