“Maka sampailah dalam, setelah keliling itu ketemu, lalu dibilang pada saya, ‘Gini Pak Plt, kalau datang ke beliau-beliau itu, mesti ada tanda mata yang ditinggalkan’. Wah saya nggak bawa. Tanda matanya apa? Sarung, peci, Qur’an atau apa? ‘Kayak nggak ngerti aja Pak Harso ini’. Gitu. Then I have to provide that one. Everywhere,” kata Suharso.

Suharso menyebut fenomena ini masih terjadi hingga saat ini. Menurutnya. jika sehabis pertemuan tidak ada amplop, itu terasa hambar. Suharso mengaku tengah membenahi hal ini.

“Dan setiap ketemu, Pak, ndak bisa, Pak, bahkan sampai hari ini. Kalau kami ketemu di sana, itu kalau salamannya itu nggak ada amplopnya, Pak, itu pulangnya itu sesuatu yang hambar. This is the real problem that we are fixing today,” ujar dia.

Pidato Suharso rupanya menyinggung sejumlah kiai NU. Salah satunya Gus Miftah. Dalam unggahannya di Media Sosial Instagram, Gus Miftah menyebutkan bahwa statment orang nomor 1 PPP itu menghina marwah Kiai dan pondok pesantren.

Dalam unggahannya Gus Miftah meminta agar Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa segera meminta maaf dan memberikan klarifikasi terkait video yang beredar.