Nelayan yang merasa dirugikan oleh pembangunan pagar tersebut sudah melaporkan masalah ini kepada kepala desa, namun kades mengaku tidak mengetahui apa-apa tentang proyek pagar tersebut dan hanya berjanji akan mengurusnya.

Sementara itu, pembangunan pagar misterius ini semakin memperburuk kondisi para nelayan. Salah seorang nelayan mengeluhkan penurunan pendapatan sejak pagar itu dibangun.

Sebelumnya, ia bisa memperoleh Rp150 ribu per hari dari berburu cumi-cumi, namun setelah pagar dibangun, pendapatannya menurun drastis menjadi hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari. Selain itu, ia juga harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk solar.

“Rp100 ribu aja susah sekarang. Solar biasanya sehari habis seliter, sekarang bisa dua liter,” kata Gani, nelayan yang ditemui oleh pihak media.

Selain berdampak pada pendapatan, para nelayan juga khawatir akan keselamatan mereka saat melintasi celah-celah sempit pagar untuk mencapai lokasi ikan. Mereka juga mengkhawatirkan bambu-bambu yang digunakan dalam pagar tersebut bisa terhempas ombak, membahayakan keselamatan mereka.