Dua mahasiswa asal Surabaya, Maulana Rifky dan Delvin Erwi Anggara, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional maupun regional pada Oktober 2026. Maulana Rifky, yang merupakan mahasiswa S2 Manajemen Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sukses mengharumkan nama Indonesia di ajang Asian Para Games 2026 yang diselenggarakan di Aichi-Nagoya, Jepang. Sementara itu, Delvin Erwi Anggara, mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), mencatatkan capaian gemilang di Kota Surabaya dengan keberhasilannya menembus jajaran elit kompetisi pemilihan duta daerah.

Keberhasilan kedua mahasiswa ini menunjukkan dedikasi tinggi dalam menyeimbangkan tuntutan akademik yang ketat dengan komitmen mereka dalam mengikuti berbagai kompetisi bergengsi. Baik Maulana maupun Delvin membuktikan bahwa kesibukan di bangku perkuliahan tidak menjadi penghalang untuk meraih prestasi. Melalui latihan intensif, manajemen waktu yang disiplin di tengah masa ujian, serta dukungan penuh dari keluarga dan pihak kampus, keduanya mampu menunjukkan performa terbaik di bidang yang mereka geluti masing-masing demi mengharumkan nama almamater dan daerah.

Maulana Rifky menunjukkan dominasinya di cabang olahraga renang pada ajang Asian Para Games 2026. Atlet ini berhasil raih empat medali Asian Para Games, yang terdiri dari dua medali emas dan dua medali perak. Prestasi emas pertama diraihnya pada nomor 100 meter gaya bebas putra S12 dengan catatan waktu 55,34 detik. Tidak berhenti di situ, ia kembali menyabet medali emas pada nomor 100 meter gaya punggung S12 putra dengan waktu 1 menit 3,07 detik, sekaligus memecahkan rekor Asia yang sebelumnya dipegang oleh perenang asal Jepang, Genki Saito. Selain dua emas tersebut, Maulana juga membawa pulang dua medali perak dari nomor 100 meter gaya kupu-kupu S12 putra dan 50 meter gaya bebas S13 putra.

Dedikasi Atlet Renang dalam Menghadapi Tekanan Kompetisi Internasional

Perjalanan Maulana Rifky di Jepang tidak terlepas dari dukungan emosional yang kuat dari keluarganya. Istri dan anaknya yang berusia 10 bulan menjadi motivasi utama bagi Maulana untuk memberikan performa terbaik di kolam renang. Sebelum bertolak ke Jepang, ia sengaja meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga sebagai siasat untuk menenangkan diri dari tekanan kompetisi yang intens. Selama berada di Aichi-Nagoya, ia tetap menjaga komunikasi dengan keluarga melalui panggilan video untuk mengobati rasa rindu. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa dukungan orang terdekat mampu menjadi pendorong bagi seorang atlet untuk tetap fokus dan berprestasi di level tertinggi.

Di sisi lain, Delvin Erwi Anggara, mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UNAIR angkatan 2024, juga menorehkan prestasi membanggakan di tingkat regional. Ia berhasil menjadi finalis Cak & Ning Surabaya setelah melalui serangkaian proses seleksi yang panjang dan kompetitif. Bagi Delvin, keikutsertaannya dalam ajang ini merupakan perwujudan impian yang telah ia simpan sejak masa SMP dan SMA. Mewakili Kecamatan Tenggilis Mejoyo, ia berkomitmen untuk aktif melestarikan budaya serta memajukan sektor pariwisata di Kota Pahlawan. Ia memandang peran sebagai representatif pemuda Surabaya sebagai tanggung jawab besar untuk merangkul generasi muda agar lebih memahami potensi diri serta sejarah kotanya.

Manajemen Waktu Mahasiswa di Tengah Padatnya Agenda Karantina

Perjalanan Delvin dalam kompetisi ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Ia harus menghadapi tantangan berat ketika jadwal babak grand final dan masa karantina hotel selama lima hari bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) di kampusnya. Selama masa karantina, para peserta diwajibkan untuk fokus menerima materi dari senior dan tamu undangan tanpa diperbolehkan menggunakan telepon genggam. Delvin mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membagi waktu agar tetap bisa belajar dan menjaga nilai akademiknya di tengah jadwal karantina yang sangat padat. Ia harus memberikan upaya ekstra untuk memanfaatkan waktu luang demi persiapan ujian.

Semangat Delvin untuk tetap bertahan dalam kompetisi tersebut didorong oleh dukungan moral yang mengalir dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, teman-teman terdekat, dosen, hingga pihak kampus dan Camat Ngagelrejo. Baginya, membawa nama baik almamater dan daerah asal menjadi dorongan utama untuk tampil maksimal. Delvin berharap kontribusinya tidak hanya berhenti pada bidang pariwisata, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi pemuda lain untuk berani mengukir kebanggaan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Kisah Maulana dan Delvin menjadi cerminan bagaimana mahasiswa Surabaya mampu mengelola prioritas antara tanggung jawab akademik dan pengembangan diri secara seimbang.