katamerdeka.com – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menetapkan target peningkatan nilai ekspor sektor mebel dan kerajinan nasional hingga mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp106 triliun pada 2031.

Target tersebut menjadi salah satu agenda strategis yang dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 HIMKI yang berlangsung di Bali pada 14–16 September 2026. Dalam forum tersebut, Abdul Sobur kembali dipercaya secara aklamasi untuk memimpin HIMKI periode 2026–2030.

Target ekspor US$6 miliar tersebut cukup signifikan dibandingkan kondisi saat ini. Nilai ekspor mebel dan kerajinan Indonesia masih berada di kisaran US$2,5 miliar–US$2,6 miliar per tahun.

Untuk mengejar target tersebut, HIMKI meluncurkan Grand Strategy Plan (GSP) sebagai peta jalan pengembangan industri mebel dan kerajinan nasional.

“Target besar industri tidak mungkin dicapai oleh HIMKI sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan seluruh ekosistem industri. GSP harus menjadi dokumen hidup yang diterjemahkan ke dalam program, target, penanggung jawab, serta ukuran keberhasilan yang jelas,” kata Abdul Sobur dalam pernyataan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

GSP disusun melalui kolaborasi lintas sektor dengan tujuan memperkuat daya saing industri mebel dan kerajinan Indonesia di pasar global.

Sejumlah aspek menjadi perhatian dalam strategi tersebut, antara lain penguatan rantai nilai industri, pengembangan inovasi dan desain, serta ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan.

Melalui strategi itu, HIMKI mendorong transformasi industri agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku maupun produk manufaktur dasar, tetapi juga mampu berkembang sebagai pusat perdagangan, desain, dan produksi mebel serta kerajinan bernilai tambah tinggi.

Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari strategi. Desainer, perajin, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat bergerak dalam arah yang sama untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Dalam Munas ke-4, Abdul Sobur kembali memperoleh kepercayaan untuk memimpin HIMKI periode 2026–2030. Ia menyebut mandat tersebut sebagai amanah untuk melanjutkan dan menuntaskan berbagai agenda organisasi yang belum sepenuhnya terealisasi.

Menurut Abdul Sobur, pencapaian target ekspor tidak dapat dilakukan hanya oleh organisasi maupun pelaku usaha secara individual. Dibutuhkan ekosistem industri yang solid dan orkestrasi kebijakan yang terukur antara pemerintah, dunia usaha, pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Strategi tersebut juga diarahkan untuk memperluas pengenalan terhadap identitas budaya, kekayaan material alam, dan kreativitas perajin Indonesia di pasar internasional.

Selain berorientasi pada peningkatan ekspor dan devisa, penguatan industri mebel dan kerajinan diharapkan turut memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja serta keberlanjutan keterampilan para perajin.

Selain menetapkan arah strategis industri, Munas ke-4 HIMKI juga menjadi momentum pembenahan internal organisasi.

Proses suksesi dilakukan melalui pemilihan sembilan anggota formatur yang kemudian menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan kepemimpinan Abdul Sobur.

Forum tersebut juga mengesahkan sejumlah perangkat organisasi, termasuk amandemen Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO).

Pengesahan tersebut ditujukan untuk memperkuat landasan organisasi dalam menjalankan program dan mengawal implementasi strategi pengembangan industri ke depan.

HIMKI menilai penguatan industri mebel dan kerajinan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekspor. Sektor tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan keterampilan perajin, pemanfaatan material alam, inovasi desain, serta pengembangan produk bernilai tambah.

Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong perubahan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Dengan strategi yang telah disusun, industri diharapkan dapat memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk agar mampu menghadapi persaingan internasional.

Menuju 2031, HIMKI juga akan mendorong penyiapan generasi penerus industri secara konsisten. Implementasi GSP akan diterjemahkan ke dalam program kerja dengan target, penanggung jawab, dan indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi.

Evaluasi berkala tersebut diperlukan untuk memantau pelaksanaan program sekaligus memastikan strategi pengembangan industri tetap sejalan dengan target ekspor yang telah ditetapkan.

Dengan target ekspor US$6 miliar pada 2031, HIMKI kini menghadapi agenda untuk menerjemahkan strategi tersebut ke dalam program konkret yang melibatkan seluruh ekosistem industri mebel dan kerajinan nasional.