Rutin bertemu setiap pekan, Reynaldi menyatakan Bookclan tidak pernah libur sejak didirikan bahkan pada tanggal merah. Jadwal pertemuan yang rutin itu terinspirasi dari gerakan-gerakan lingkungan.

“Kita kan secara data minat baca kita sangat rendah tapi gerakan soal pendidikan itu enggak segreget gerakan lingkungan. Karena itu aku buat tiap minggu, berapa banyak pun orang yang datang,” ungkapnya.

Anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah telah dibantah oleh banyak pegiat literasi. Mereka mengatakan problem sebenarnya adalah minimnya akses terhadap buku-buku berkualitas.

“Sebenarnya minat baca tinggi tapi aksesnya minim, bahkan sampai enggak ada. Itu yang akhirnya membuat orang-orang terlena dengan membaca yang ‘ya udah [membaca] kalau buku ada aja’ … Gimana mau baca? Bukunya enggak ada,” kata Adi Sarwono, inisiator gerakan literasi Busa Pustaka di Provinsi Lampung.

Awalnya terdorong untuk membantu anak-anak korban narkoba, Adi mendirikan Busa Pustaka pada 2019. Dia mengubah rumah dua lantainya menjadi perpustakaan untuk anak-anak dan remaja, serta menggunakan mobilnya sendiri untuk perpustakaan keliling yang ia bawa ke daerah-daerah pelosok di Lampung.