Baca Bareng sebagai klub buku yang inklusif tidak mensyaratkan keanggotaan dan tidak menentukan jenis bacaan.

Perempuan berusia 30 tahun asal Surabaya itu bermaksud membuat gerakan membaca yang inklusif. Artinya, peserta bebas untuk membaca apapun yang mereka mau entah itu novel, komik, buku non-fiksi, bahkan katalog produk.

“Inklusivitas itu ingin mengenalkan bahwa membaca itu terbuka untuk siapapun, enggak ada batasan kelas, enggak ada batasan gender, enggak ada batasan usia, dan kalaupun membaca hanya untuk hiburan cuma buat melepas penat itu juga enggak apa-apa,” kata Hestia yang sudah delapan tahun merantau di Jakarta.

Inklusivitas itu juga dicerminkan dari pilihan tempat untuk sesi baca senyap. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, yang baru dibuka kembali pada September 2022 setelah direvitalisasi, adalah lokasi yang terbilang strategis karena dekat dengan halte Transjakarta dan stasiun MRT.

Selama satu jam, orang-orang khusyuk membaca dengan latar belakang suara lalu lintas, sesekali diselingi deru knalpot kendaraan bermotor.