“Akhirnya dia minta kalau diizinkan boleh ke sana bergabung dengan Pak Prabowo, timnya Pak Prabowo dalam pemenangan Pak Prabowo. Tidak mau berpindah ke partai di sana, tetap di PDI-Perjuangan. Saya bilang tidak bisa, kita masa satu rumah, satu rumah ini mau bertarung kita kasih keluarga lain, ‘Eh kamu ke sana nanti kita berhadap-hadapan’ kan nggak bisa begitu,” tegas Komarudin.

Komarudin memahami betul dilema yang dialami oleh mantu Jokowi itu. Mengingat, PDIP merupakan rumah yang telah membesarkannya sejak memilih berkarir sebagai politikus. Namun, Komarudin menekankan partainya memiliki aturan jelas di mana setiap kader hanya boleh bermain satu kaki.

“Apalagi PDI Perjuangan ini aturannya jelas, dan selalu diingatkan oleh ibu ketua umum kita tidak bisa main dua kaki, satu kaki saja. Ya, jadi kalau PDI-Perjuangan sudah memutuskan untuk mendukung Ganjar Pranowo dan Mahfud Md, maka seluruh kekuatan kita kerahkan untuk memenangkan itu,” ucapnya.

“Saya mengerti lah perasaan dia, dia sampaikan ‘Aduh bagaimana pun saya besar seperti hari ini karena seluruh kekuatan PDI Perjuangan dikerahkan waktu saya mencalonkan diri jadi Wali Kota Medan’. Termasuk masalah-masalah pribadi yang waktu itu kita bagaimana menjaga dia menjadi wali kota,” sambungnya.