Senada dengan Wayan Supadno, Akademisi dari IPB Rachmad Pambudi mengatakan bahwa sepanjang pandemi Covid-19 permintaan terhadap produk organik di berbagai negara ternyata telah meningkat signifikan. Pandemi sepertinya telah membuat kesadaran banyak orang akan arti penting kesehatan jadi meningkat.

“Revolusi hijau telah berhasil meningkatkan produksi pangan, terutama beras, secara signifikan, khususnya di negara-negara Asia. Namun, Revolusi Hijau juga telah melahirkan dampak negatif yang merusak, baik terhadap kesehatan manusia, serta terutama terhadap lingkungan, melalui residu pestisida, degradasi lahan yang kian meluas, kerusakan ekosistem, hingga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.

Saat populasi global tumbuh semakin cepat, maka kebutuhan produksi pangan berkelanjutan juga menjadi lebih mendesak. Sehingga, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, yang sekadar memproduksi output yang tinggi, mau tidak mau harus segera ditinggalkan. Pada titik itu, pertanian organik menjadi lebih relevan dengan sejumlah isu krusial global lainnya, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, erosi tanah, polusi tanah, meluasnya paparan pestisida, serta polusi air”, paparnya.