katamerdeka.com – Mendapatkan gelar sarjana bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan. Justru setelah wisuda, tantangan sesungguhnya dimulai: memasuki dunia kerja, menghadapi persaingan global, dan membuktikan kemampuan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.

Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam wisuda ke-IV Universitas LIA yang berlangsung di Menara Peninsula Hotel, Jakarta. Prosesi ini menjadi momentum bagi para lulusan untuk memulai babak baru kehidupan sekaligus membawa ilmu yang diperoleh selama kuliah ke tengah masyarakat.

Rektor Universitas LIA, Assoc. Prof. Dr. Siti Yulidhar Harunasari, M.Pd., mengingatkan para lulusan agar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Menurutnya, ada tiga bekal penting yang harus terus dijaga setelah meninggalkan bangku kuliah: integritas, semangat belajar, dan kepedulian terhadap sesama.

“Perjalanan di Universitas LIA telah membentuk saudara menjadi pribadi yang tangguh. Saya titipkan tiga hal penting: senantiasa menjaga integritas diri, terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan, serta jadilah manusia yang memberikan manfaat nyata bagi orang lain dan bangsa,” kata Siti Yulidhar.

Suasana wisuda semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Himmatul Aliyah, S.Sos., Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020–2024 Sandiaga Salahuddin Uno, serta perwakilan LLDikti Wilayah III, Taufan Setyo Pranggono, S.Kom., M.Si., bersama jajaran pimpinan mitra industri dan perguruan tinggi.

Himmatul Aliyah memberikan apresiasi kepada Universitas LIA atas kontribusinya sebagai kampus berdampak bagi masyarakat. Ia juga mengaku bangga terhadap pencapaian para wisudawan.

Namun, ada pesan penting yang disampaikannya: jangan berhenti mengejar ilmu setelah memperoleh gelar. Ia mendorong para lulusan berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dengan memanfaatkan kesempatan beasiswa.

Sorotan lain datang dari Sandiaga Uno. Dalam orasi ilmiahnya, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tersebut mengingatkan bahwa persaingan global di era digital menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan lebih dari sekadar penguasaan teori.

Adaptasi terhadap perubahan, keberanian berwirausaha, dan kemampuan memanfaatkan teknologi menjadi kompetensi yang perlu dimiliki agar lulusan mampu bersaing di pasar kerja internasional.

Menariknya, wisuda kali ini juga membawa pesan tentang pentingnya membuka kesempatan pendidikan bagi lebih banyak generasi muda.

Sejumlah lulusan merupakan penerima beasiswa hasil kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sepatu Kanky, dan PT Cahaya Arif Abadi. Program ini menjadi contoh bagaimana pemerintah, perusahaan, dan perguruan tinggi dapat bekerja sama dalam memperluas akses pendidikan sekaligus menyiapkan sumber daya manusia berkualitas.

Bagi Universitas LIA, keberhasilan wisuda tidak berhenti ketika para mahasiswa menerima ijazah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana ilmu, keterampilan, dan karakter yang telah dibangun selama masa perkuliahan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Para lulusan kini membawa tanggung jawab baru. Bukan hanya mencari peluang untuk sukses, tetapi juga menciptakan peluang, memberikan solusi, dan menjadi bagian dari perubahan positif bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan semata-mata tentang selembar ijazah, melainkan tentang kontribusi yang dapat diberikan seseorang bagi masa depan bangsa.