Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pelemahan ekonomi China disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik, utang rumah tangga, dan permasalahan sektor properti di tengah penurunan ekspor akibat perlambatan ekonomi global. Akibatnya, sejumlah negara akan kecipratan dampaknya termasuk Indonesia.

“Ekonomi China yang melambat bisa merembet ke negara lain. Misalnya ekspor kita yang masih meningkat tapi tidak sekuat sebelumnya,” kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur di kantornya.

Di sisi lain, Perry mengungkapkan ekonomi AS mulai pulih. Kuatnya ekonomi AS didukung oleh konsumsi rumah tangga seiring dengan kenaikan upah dan pemanfaatan ekses tabungan (excess savings).

Perry memproyeksi inflasi di negara maju masih tetap tinggi karena berlanjutnya tekanan inflasi jasa, keketatan pasar tenaga kerja, dan meningkatnya harga minyak. Perkembangan tersebut mendorong tetap tingginya suku bunga kebijakan moneter di negara maju, terutama Federal Funds Rate (FFR) AS yang mengakibatkan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.