Menurut Febrio, data yang terekam oleh BPS 70% dalam bentuk bangunan dan 30% dalam bentuk mesin, atau dalam bentuk barang-barang intelektual properti. “Ini banyak sekali isinya dan tidak satu demi satu dilakukan (diklasifikasikan) juga oleh BKPM,” jelas Febrio.

Febrio menyebut, pertumbuhan investasi yang masih tertahan pada kuartal I-2023 disebabkan adanya ketidakpastian ekonomi global sejak tahun lalu. Ketidakpastian tersebut tercermin dari volatilitas harga komoditas dan volatilitas nilai tukar rupiah di Indonesia pada tahun lalu.

“Sehingga ada global uncertainty yang tinggi, membuat investor wait and see. Ini akan terus didorong, gimana Indonesia memberikan kebijakan investasi, kebijakan insentif dan kemudahan berusaha semakin konsisten dan stabilitas ekonomi yang konsisten,” jelas Febrio.(SW)