Selain itu, indeks pesanan baru juga mengalami kenaikan sebesar 2,58 poin menjadi 54,2 poin, sementara indeks persediaan naik menjadi 54,68 poin.

Meski demikian, indeks produksi bulan November mengalami kontraksi, setelah dua bulan sebelumnya menunjukkan ekspansi. Nilai indeks produksi tercatat sebesar 49,72 poin, turun 2,84 poin dibandingkan Oktober.

“Penurunan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, yang menyebabkan kenaikan harga bahan baku impor. Sementara itu, produsen menjual produknya dalam rupiah,” jelas Febri.

Selain itu, industri berorientasi ekspor masih menghadapi tantangan berupa lemahnya permintaan pasar internasional, yang turut memengaruhi produksi.

Febri menekankan bahwa kenaikan IKI terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik yang cukup tinggi, berkat dukungan dari program pemerintah. Keyakinan masyarakat terhadap pemerintahan baru juga menjadi faktor pendorong meningkatnya aktivitas usaha pada November.

“Proporsi industri yang menyatakan kondisi usahanya membaik pada bulan November sebesar 30,8 persen, sementara yang mengalami penurunan sebesar 22,2 persen,” tambah Febri.