Miftachul Akhyar Pimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Setelah Pemecatan Yahya Cholil Staquf
katamerdeka.com – Kepemimpinan di lingkungan PBNU kini berada di tangan KH Miftachul Akhyar, setelah Yahya Cholil Staquf yang akrab dikenal sebagai Gus Yahya resmi tak lagi menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum) PBNU per tanggal 26 November 2025. Keputusan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 dan telah dikonfirmasi oleh pengurus PBNU.
Dalam surat edaran disebutkan bahwa selama kekosongan jabatan Ketum, seluruh kewenangan dan kepemimpinan PBNU berada di bawah Rais Aam posisi di mana Miftachul Akhyar kini menjabat.
Siapa KH Miftachul Akhyar? — Profil Singkat Ulama Berpengalaman
KH Miftachul Akhyar lahir pada 30 Juni 1953 di Surabaya, sebagai putra ke-sembilan dari 13 bersaudara. Ayahnya, KH Abdul Ghoni, merupakan pengasuh pesantren Tahsinul Akhlak Rangkah. Sejak kecil, Miftachul Akhyar dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama (NU).
Pendidikan agama dan keulamaan ditempuhnya di berbagai pesantren ternama di Jawa Timur dan sekitarnya antara lain di Pesantren Tambak Beras (Jombang), Sidogiri (Pasuruan), Lasem, serta melalui majelis ta’lim tradisional. Setelah menimba ilmu, ia mendirikan dan mengasuh pesantren sendiri, yaitu Pesantren Miftachussunnah di Surabaya.
Karier Panjang di NU dan Organisasi Keumatan
Miftachul Akhyar bukan wajah baru dalam kepengurusan NU. Rekam jejaknya meliputi:
-
Rais Syuriyah PCNU Surabaya (2000–2005)
-
Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur (pernah menjabat 2007–2013 dan 2013–2018)
-
Wakil Rais Aam PBNU (2015–2020) dan sempat menjabat Penjabat Rais Aam menggantikan Ma’ruf Amin.
-
Sejak 2021–2026 resmi dipilih sebagai Rais Aam PBNU periode itu.
Jabatan tuanya sebagai Rais Aam menjadikannya figur sentral dalam struktur tertinggi organisasi. Hal ini yang kemudian mendasari penunjukannya memegang kepemimpinan penuh PBNU pasca-kosongnya kursi Ketum.
Kontroversi Terbaru: Pemecatan Ketum dan Pergantian Kepemimpinan
Pemecatan Gus Yahya muncul dari keputusan rapat harian Syuriyah PBNU yang dihadiri mayoritas anggota, dan risalah rapat tersebut ditandatangani langsung oleh Miftachul Akhyar selaku Rais Aam. Rapat menyatakan tiga pertimbangan utama terkait isu internal organisasi dan dugaan pelanggaran prosedural yang memaksa mundurnya ketua umum.
Sebagai tindak lanjut, surat edaran resmi dikeluarkan dan seluruh wewenang formal PBNU dialihkan ke Rais Aam. Meskipun demikian, keputusan ini menuai kritik dari sebagian pihak dalam PBNU yang menilai prosedurnya “cacat” dan bertentangan dengan ketentuan organisasi.
Tantangan ke Depan bagi Kepemimpinan Baru PBNU
Dengan diembannya jabatan tertinggi oleh Miftachul Akhyar, PBNU kini menghadapi sejumlah tantangan signifikan, antara lain:
-
Pemulihan kepercayaan internal dan eksternal setelah konflik kepemimpinan.
-
Penataan kembali struktur organisasi agar konsolidasi berjalan.
-
Menjaga nilai dan tradisi NU di tengah dinamika sosial terutama penting di era disrupsi informasi dan perubahan cepat masyarakat. Sebagaimana pernah ditegaskan Miftachul saat mengajak warga NU tetap pegang akhlak dan waspada terhadap fitnah.







Comment