katamerdeka.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik industri animasi sebagai salah satu sektor andalan untuk memperluas penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Industri ini dinilai memiliki potensi besar karena proses produksinya masih membutuhkan keterlibatan manusia, meskipun teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) terus berkembang.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, industri animasi tidak hanya mengandalkan modal dan teknologi, tetapi juga membutuhkan tenaga kerja untuk mengerjakan berbagai detail dalam proses produksi.

“Saya agak surprise, ternyata itu tidak semata-mata pada modal, pada teknologi saja, tetapi juga pada karya. Termasuk animasi itu ternyata padat karya, menyerap tenaga kerja yang banyak karena detail-detailnya itu tetap harus dikerjakan oleh manusia,” ujarnya saat meninjau Balai Diklat Industri Denpasar, Bali, Sabtu.

Menurut Sarmuji, karakteristik tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri digital sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Karena itu, potensi industri animasi perlu dikembangkan secara serius agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Ia menegaskan, pemerintah berkomitmen menjadikan sektor industri sebagai salah satu penggerak utama penyerapan tenaga kerja. Industri digital menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung upaya tersebut.

“Kita sudah bertekad industri harus menjadi ladang bagi penyerapan tenaga kerja secara maksimal, dan salah satunya justru pada industri digital ini kita temukan penyerapan tenaga kerjanya banyak sekali,” katanya.

Sarmuji juga menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing di industri animasi. Potensi tersebut tercermin dari keterlibatan talenta lokal dalam produksi film animasi Jumbo.

Ia mengungkapkan, tiga orang yang terlibat dalam produksi film tersebut merupakan lulusan Balai Diklat Industri Denpasar. Keterlibatan mereka dinilai menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan vokasi dapat menghasilkan tenaga kerja yang mampu berkontribusi dalam produksi karya kreatif berskala nasional.

“Kalau kita seriusin, potensi anak-anak kita ternyata bisa. Hanya perlu perhatian dan concern kita sebagai anak bangsa,” ujarnya.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pengembangan industri animasi perlu didukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan fasilitas pelatihan, serta kerja sama yang lebih erat antara lembaga pendidikan dan pelaku industri.

Balai Diklat Industri Denpasar menjadi salah satu fasilitas pendukung melalui program pelatihan, pemagangan, dan kerja sama dengan industri. Fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan oleh siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk memperdalam pengetahuan dan meningkatkan keterampilan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Melalui penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi, pemerintah diharapkan dapat memperluas ketersediaan tenaga kerja terampil sekaligus mendorong industri animasi nasional berkembang dan membuka lebih banyak kesempatan kerja di tengah transformasi digital.