katamerdeka.com – Peluang bisnis properti di Indonesia semakin berkembang ke luar Jakarta seiring dengan pembangunan infrastruktur, investasi industri, dan munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Perkembangan ini membuka kesempatan bagi sektor properti di berbagai wilayah, termasuk Batam, Bali, dan sejumlah kawasan strategis lainnya.

Perusahaan konsultan properti global JLL menilai, pertumbuhan sektor properti di Asia Tenggara kini tidak hanya dipengaruhi pemulihan pasar, tetapi juga perubahan geopolitik, diversifikasi rantai pasok, digitalisasi, serta tuntutan pembangunan berkelanjutan.

Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengatakan Indonesia tengah memasuki fase baru dalam perkembangan pasar properti. Pertumbuhan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan pembangunan infrastruktur turut mendorong permintaan terhadap berbagai jenis properti.

Permintaan tersebut mencakup fasilitas kesehatan, pusat data, perkantoran, kawasan ritel, hingga perhotelan.

“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut JLL, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peluang investasi properti semakin terbuka di luar pusat bisnis tradisional, terutama di kawasan yang didukung konektivitas dan aktivitas ekonomi baru.

JLL mengidentifikasi sejumlah peluang yang dapat dikembangkan di sektor properti Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Salah satu fokus utamanya adalah perluasan aktivitas ekonomi ke wilayah di luar pusat bisnis utama.

Country CEO & Southeast Asia JLL, Michael Glancy, menjelaskan bahwa sentralisasi bisnis dan tren flight to quality masih memengaruhi pasar properti. Tren tersebut merujuk pada kecenderungan perusahaan memilih ruang kerja dengan kualitas lebih baik untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menarik dan mempertahankan tenaga kerja berbakat.

Namun, di sisi lain, pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara juga mendorong desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan yang sedang berkembang.

Kondisi tersebut menciptakan peluang bagi pengembang dan investor untuk mempertimbangkan lokasi baru yang memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah.

“Ini merupakan perubahan penting di pasar yang terus kami cermati. Kami juga akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu mengembangkan kawasan yang menjadi target mereka,” ujar Michael.

Selain Jakarta, kawasan seperti Jabodetabek, Bali, dan Batam dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan ekosistem ekonomi yang mampu menarik investasi dari berbagai sektor.

Kebutuhan terhadap pusat data, misalnya, berkaitan dengan meningkatnya digitalisasi dan kebutuhan infrastruktur teknologi. Sementara itu, perkembangan industri dan aktivitas bisnis dapat mendorong permintaan terhadap ruang perkantoran, fasilitas kesehatan, serta properti komersial lainnya.

Pembangunan infrastruktur juga menjadi faktor penting karena dapat meningkatkan konektivitas, memperluas jangkauan aktivitas ekonomi, dan membuat suatu kawasan lebih menarik bagi pelaku usaha.

Meski demikian, potensi setiap wilayah tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, ketersediaan lahan, serta kebutuhan pasar.

JLL menilai, perusahaan dan investor perlu menggunakan pendekatan yang lebih strategis dalam menentukan lokasi investasi. Selain mempertimbangkan kedekatan dengan pusat bisnis, mereka perlu memperhatikan kualitas aset, akses terhadap tenaga kerja, serta dukungan infrastruktur.

Perubahan tersebut turut mendorong pengembang untuk menyesuaikan strategi pembangunan dengan kebutuhan pengguna properti yang semakin beragam.

Meskipun peluang pertumbuhan mulai menyebar ke berbagai daerah, Jakarta tetap memiliki peran penting sebagai pusat ekonomi dan bisnis Indonesia.

Konsentrasi perusahaan, tenaga kerja, serta aktivitas perdagangan masih menjadi faktor yang mendukung posisi Jakarta dalam pasar properti nasional.

Namun, dalam jangka menengah, pengembangan kawasan ekonomi baru berpotensi memperluas pilihan investasi dan mengurangi ketergantungan terhadap pusat bisnis utama.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah, pembangunan infrastruktur, dan investasi yang tepat, wilayah di luar Jakarta berpeluang menjadi penggerak baru sektor properti Indonesia.

JLL menilai, arah perkembangan pasar properti ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan pelaku industri dalam membangun kawasan yang terintegrasi, memiliki daya saing, serta mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dan bisnis yang terus berubah.