Kasus Rempang, Ternyata Perusahaan China yang Investasi Kapitalisasinya Diragukan
Pabrik kaca apung dan kaca berlapis itu sekaligus jadi pabrik luar negeri satu-satunya milik Xinyi Group yang sudah beroperasi saat ini. Sementara di China, Xinyi mempunyai 12 pabrik kaca yang tersebar di penjuru negeri.
Nah, sebelum di Rempang, Xinyi Group telah membangun pabrik mereka melalui PT Xinyi Glass Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE di Gresik. Investasi itu diresmikan pada Agustus 2022 lalu, dikutip dari website resmi JIIPE.
Namun, investasi mereka di Gresik hanya sekitar USD 700 juta karena lahan yang terbatas. Sementara proyek di Pulau Rempang membutuhkan lahan seluas 2 ribu hektare. Investasi tahap awal di Rempang mencapai USD 11,6 miliar atau sekitar Rp 170 triliun.
“Di Rempang ini akan jadi industri kaca terbesar di dunia. Pertimbangannya selain mendekati pasokan bahan baku, juga menyiasati kalau AS benar-benar melarang impor dari China,” kata Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso baru-baru ini.
Forbes mencatat Xinyi mengantongi pendapatan sebesar USD 3,9 miliar pada tahun 2022. Dengan total aset USD 7,2 miliar, serta laba bersih sebesar USD 1,5 miliar pada tahun yang sama. Xinyi juga masuk daftar The Global 2000 yang dirilis Forbes tahun 2022.







Comment