1. Big Lots

Perusahaan ritel diskon ini resmi mengajukan kebangkrutan pada September setelah gagal memperoleh investor. Big Lots juga menutup seluruh 963 tokonya karena tidak mampu mengatasi tekanan finansial.

2. Bowflex

Produsen alat kebugaran rumah tangga ini tumbang pada Maret. Selanjutnya, asetnya diakuisisi oleh perusahaan asal Taiwan senilai US$37,5 juta dalam bentuk tunai.

3. Express

Setelah lama berkutat dengan strategi produk yang gagal menarik konsumen, Express mengajukan perlindungan kebangkrutan pada April. Hampir 100 tokonya ditutup, dan kepemilikan perusahaan beralih ke konsorsium yang dipimpin oleh WHP Global.

4. Joann

Ritel yang terkenal menjual perlengkapan kerajinan ini mengalami penurunan drastis dalam penjualan. Meski menyatakan bangkrut pada Maret, perusahaan tetap menjaga operasional sekitar 850 tokonya setelah utangnya direstrukturisasi.

5. LL Flooring

Dulunya dikenal sebagai Lumber Liquidators, perusahaan ini terguncang akibat merosotnya minat konsumen pada renovasi rumah. Setelah menutup 94 toko, perusahaan akhirnya diselamatkan oleh pihak investor.