Defisit Perdagangan US$ 450 Juta Tekan Rupiah di Juni 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan kinerja negatif pada Juni 2026 dengan angka defisit mencapai US$ 450 juta. Berdasarkan data yang dirilis di Jakarta, kondisi ini menandai tren penurunan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia yang sebelumnya sempat menikmati surplus selama 72 bulan berturut-turut. Angka defisit sebesar US$ 450 juta tersebut mencerminkan selisih antara nilai ekspor yang tercatat sebesar US$ 25,46 miliar dengan nilai impor yang mencapai US$ 25,91 miliar pada periode bulan Juni 2026.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku ekonomi dan analis pasar uang karena memberikan tekanan langsung terhadap stabilitas nilai tukar mata uang domestik. Fenomena rupiah dipicu oleh defisit neraca perdagangan Indonesia yang terjadi selama dua bulan berturut-turut, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ketahanan ekonomi nasional di tengah melemahkan harga komoditas global. Pada penutupan perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat mengalami pelemahan sebesar 30 poin atau sekitar 0,17 persen menjadi Rp18.027 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.






Comment