katamerdeka.com – PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) mencatat rasio klaim atau loss ratio asuransi kesehatan mulai menunjukkan tren penurunan sejak tahun lalu. Meski demikian, perusahaan menilai angka tersebut masih perlu ditekan agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

CEO sekaligus Presiden Direktur MSIG Life, Wianto Chen, mengatakan secara keseluruhan premi yang diterima perusahaan masih lebih besar dibandingkan klaim yang dibayarkan kepada nasabah.

“Jadi secara loss ratio masih di 92 persen untuk asuransi individu, tetapi untuk asuransi kumpulan lebih sehat itu kira-kira 85 persen loss ratio-nya,” ujar Wianto dalam Public Expose, Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, tren klaim asuransi kesehatan perusahaan memang cenderung menurun. Namun, pencapaian tersebut belum sepenuhnya memenuhi target yang diharapkan manajemen.

“Kalau dibandingkan industri yang terus meningkat, posisi kami sebenarnya lebih kuat,” ungkapnya.

Menurut Wianto, salah satu tantangan utama industri asuransi kesehatan saat ini adalah inflasi medis yang masih tinggi. Rata-rata inflasi medis setiap tahunnya mencapai 17% hingga 20%.

Kenaikan biaya layanan kesehatan tersebut dirasakan oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat yang belum memiliki perlindungan asuransi kesehatan.

Untuk mengantisipasi peningkatan beban klaim, MSIG Life juga memperketat upaya pencegahan kecurangan atau fraud dalam proses pembayaran klaim. Langkah ini dilakukan agar pembayaran klaim tetap sesuai ketentuan dan tidak merugikan nasabah lainnya.

Selain itu, perusahaan berupaya menerapkan penyesuaian premi atau repricing secara proporsional dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

“Kemudian tentunya repricing itu kan kami usahakan adil lah ya, yang sesuai dengan pasar juga ya,” jelas Wianto.

Di sisi lain, persoalan biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh praktik overtreatment atau tindakan medis berlebihan di rumah sakit. Laporan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sebelumnya menyoroti praktik tersebut sebagai salah satu faktor yang mendorong kenaikan biaya layanan kesehatan.

Untuk mengendalikan kondisi tersebut, MSIG Life terus membangun sinergi dengan rumah sakit agar kedua pihak mematuhi clinical pathway. Dengan demikian, tindakan medis dan pembiayaan yang dilakukan dapat tetap sesuai dengan standar serta kebutuhan pasien.

“Ya mudah-mudahan ini membuat stabil,” tutupnya.

Dari sisi kinerja keuangan, MSIG Life membukukan laba bersih sebesar Rp181 miliar pada paruh pertama 2026. Capaian tersebut meningkat 69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, pendapatan premi bisnis baru yang disetahunkan atau annualized premium equivalent (APE) tercatat sebesar Rp691 miliar.

Dengan dukungan ekuitas sebesar Rp8,2 triliun, MSIG Life menyatakan kinerja pada semester I-2026 ditopang oleh kondisi permodalan yang kuat.