Begitu pun dari Bandung menuju Stasiun Tegalluar. Menurut Erick, perlu disediakan pula akses tersebut.

“Bagaimana dari Bandung ke Tegalluar kan exit tolnya harus ada. Katanya exit di Cileunyi terus muter balik, tapi ada jalan lain. Saya bilang itu juga mesti menjadi opsi dibuka, supaya dari Bandung bisa naik kereta cepat datang ke Jakarta,” jelas Erick.

Sebelumnya, Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengkritik proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Ia menyebutkan proyek tersebut sebagai proyek yang mubazir.

Dalam hitungannya, kata Faisal, pendanaan proyek ini diprediksi tak akan balik modal bahkan hingga kiamat. “Sebentar lagi rakyat membayar kereta cepat. Barang kali nanti tiketnya Rp 400.000 sekali jalan. Diperkirakan sampai kiamat pun tidak balik modal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengerjaan infrastruktur tersebut hanya membuang banyak anggaran negara. Hal ini semakin diperparah karena kini anggaran proyek akan turut didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN setelah biaya proyeknya membengkak hingga Rp 27,74 triliun.