katamerdeka.com – Perbedaan antara Syiah dan Sunni kerap menjadi pertanyaan di tengah umat Islam. Banyak orang ingin memahami apa yang sebenarnya membedakan dua kelompok besar dalam Islam ini. Secara umum, keduanya sama-sama meyakini rukun Islam dan rukun iman. Namun, perbedaan mulai terlihat setelah wafatnya Muhammad, terutama terkait persoalan kepemimpinan umat.

Perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi variasi pandangan dalam bidang teologi, hukum Islam, hingga praktik ibadah. Berikut penjelasan mengenai apa itu Sunni, apa itu Syiah, serta perbedaan utama di antara keduanya.

Apa Itu Sunni?

Sunni merupakan cabang Islam yang mengikuti ajaran dan teladan Nabi Muhammad SAW sebagaimana tercermin dalam perkataan dan perbuatannya. Nama Sunni berasal dari kata sunnah yang berarti “jalan” atau “tradisi”.

Saat ini, penganut Sunni diperkirakan mencapai sekitar 90 persen dari total populasi Muslim di dunia. Dalam pandangan Sunni, Al-Qur’an menjadi sumber hukum utama dan mutlak, sedangkan Sunnah Nabi menjadi pedoman dalam memahami serta menerapkan ajaran Al-Qur’an.

Sunni juga sering disebut sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang berarti kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan kesepakatan umat.

Dalam praktiknya, umat Sunni memiliki beberapa mazhab fiqh atau mazhab hukum Islam yang terkenal, yaitu mazhab yang diasosiasikan dengan para ulama besar seperti Abu Hanifa, Malik ibn Anas, Muhammad ibn Idris al-Shafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal. Meski demikian, perbedaan mazhab tersebut tidak mengubah identitas dasar sebagai Muslim Sunni.

Apa Itu Syiah?

Syiah adalah cabang Islam yang meyakini bahwa kepemimpinan umat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW seharusnya diberikan kepada Ali ibn Abi Talib dan keturunannya.

Bagi pengikut Syiah, kepemimpinan atau imamah dianggap sebagai bagian penting dalam keyakinan agama. Mereka meyakini bahwa para imam dari keturunan Ali memiliki otoritas spiritual dan keagamaan yang khusus.

Dalam sejarahnya, Syiah menolak kekuasaan dinasti seperti Umayyad Caliphate dan Abbasid Caliphate karena dinilai tidak mewakili kepemimpinan yang sah menurut keyakinan mereka.

Di dalam Syiah sendiri terdapat beberapa kelompok atau mazhab, seperti Zaidiyah, Ismailiyah, dan Itsna Asyariah (Dua Belas Imam), yang memiliki perbedaan pandangan mengenai siapa imam yang sah dan bagaimana kepemimpinan itu diwariskan.

Perbedaan Syiah dan Sunni

Walaupun memiliki banyak kesamaan dalam prinsip dasar Islam, terdapat beberapa perbedaan penting antara Syiah dan Sunni.

1. Akar Perbedaan dalam Kepemimpinan

Perbedaan utama bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Kaum Sunni berpendapat bahwa pemimpin umat dipilih melalui musyawarah. Oleh karena itu mereka menerima Abu Bakr, Umar ibn al-Khattab, dan Uthman ibn Affan sebagai khalifah yang sah.

Sementara itu, Syiah meyakini bahwa Ali ibn Abi Talib telah ditunjuk sebagai penerus kepemimpinan umat oleh Nabi.

2. Otoritas dalam Urusan Agama

Dalam tradisi Sunni, otoritas keagamaan lebih tersebar di kalangan para ulama. Banyak ulama yang dapat melakukan ijtihad, yaitu upaya menetapkan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebaliknya, dalam tradisi Syiah otoritas agama lebih terpusat pada para imam dari Ahlul Bait, yang dianggap memiliki pengetahuan spiritual dan keagamaan yang istimewa.

3. Sumber Hukum Islam

Sunni menggunakan empat sumber hukum utama, yaitu:

  • Al-Qur’an

  • Sunnah Nabi

  • Ijma’ (kesepakatan ulama)

  • Qiyas (analogi)

Syiah juga menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi menempatkan akal sebagai sumber penting dalam memahami dan menetapkan hukum Islam.

4. Perbedaan dalam Kajian Hadis

Dalam menerima hadis, Sunni umumnya menerima riwayat dari seluruh sahabat Nabi dengan asumsi bahwa para sahabat adalah orang-orang yang adil.

Sebaliknya, Syiah lebih selektif dan mengutamakan hadis yang diriwayatkan oleh keluarga Nabi atau Ahlul Bait, serta sahabat yang dianggap setia kepada Ali.

5. Perbedaan dalam Cara Beribadah

Beberapa perbedaan juga terlihat dalam praktik ibadah sehari-hari.

Sebagian penganut Syiah sering menggabungkan waktu salat Zuhur dengan Asar serta Magrib dengan Isya. Mereka juga menambahkan kalimat “Hayya ‘ala khairil ‘amal” dalam azan dan menggunakan turbah (batu kecil atau tanah suci) saat sujud.

Sementara itu, umat Sunni umumnya melaksanakan salat pada lima waktu terpisah dan tidak menggunakan turbah.

6. Perayaan Keagamaan

Dalam tradisi Syiah terdapat peringatan Asyura dan Arba’in untuk mengenang wafatnya Husayn ibn Ali dalam peristiwa Battle of Karbala.

Bagi mereka, peringatan tersebut memiliki makna spiritual sekaligus simbol perjuangan melawan ketidakadilan.

Sementara di kalangan Sunni, perayaan yang umum dilakukan adalah Eid al-Fitr, Eid al-Adha, dan peringatan Maulid Nabi.

7. Pandangan Politik

Dalam aspek politik, tradisi Sunni cenderung menekankan stabilitas dan ketaatan kepada pemimpin selama tidak melanggar ajaran agama.

Sebaliknya, Syiah lebih menekankan pentingnya menegakkan keadilan dan keberanian untuk menentang pemimpin yang dianggap zalim.

8. Perbedaan dalam Teologi

Dalam bidang teologi, sebagian besar Sunni mengikuti pemikiran teologis seperti Asy’ariyah atau Maturidiyah, yang menekankan kekuasaan mutlak Tuhan.

Sementara itu, dalam tradisi Syiah terdapat penekanan lebih besar pada konsep keadilan Tuhan serta kebebasan manusia dalam memilih tindakan.

Kesimpulan

Meskipun terdapat berbagai perbedaan dalam sejarah, kepemimpinan, dan praktik ibadah, Syiah dan Sunni tetap memiliki banyak kesamaan dalam ajaran dasar Islam, seperti keyakinan kepada Allah, Al-Qur’an, Nabi Muhammad, serta kewajiban menjalankan rukun Islam.

Perbedaan tersebut sebagian besar berkembang dari konteks sejarah dan interpretasi ajaran setelah wafatnya Nabi, yang kemudian membentuk tradisi keagamaan yang berbeda di dalam dunia Islam.