Lafal Niat Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap dan Penjelasan Maknanya
katamerdeka.com – Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib bagi umat Islam yang dilakukan setiap tahun di bulan suci Ramadhan.
Salah satu rukun atau syarat sah puasa adalah niat. Niat puasa Ramadhan harus diucapkan pada malam hari sebelum fajar, seperti yang dijelaskan dalam madzhab Syafi’i.
Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’ menjelaskan bahwa:
“Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.”
Namun, terdapat beberapa versi lafal niat puasa Ramadhan yang digunakan oleh umat Islam di berbagai wilayah.
Perbedaan dalam cara mengucapkan niat ini tidak mengubah makna dasar dari niat tersebut.
Berikut adalah 6 lafal niat puasa Ramadhan beserta penjelasan maknanya.
1. Niat Puasa Ramadhan dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
- Penjelasan Gramatikal:
- Kata “Ramadhana” diakhiri dengan fathah sebagai tanda khafadh (jar).
- Kata “sanati” diakhiri dengan kasrah karena alasan lil mujawarah (keselarasan).
2. Niat Puasa dari Kitab Asnal Mathalib (Versi 1)
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta‘ālā
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
- Penjelasan Gramatikal:
- Kata “Ramadhana” sebagai mudhaf ilaihi sehingga diakhiri dengan fathah.
- Kata “sanata” diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya.
3. Niat Puasa dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Irsyadul Anam
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
- Penjelasan Gramatikal:
- Kata “Ramadhani” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh (jar).
- Kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atas badal dari kata “hādzihi”.
4. Niat Puasa Singkat
نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma Ramadhāna
Artinya: “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”
- Penjelasan Gramatikal:
- Niat ini lebih singkat dan sederhana. Cocok untuk anak-anak atau pemula.
5. Niat Puasa untuk Esok Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma ghadin min/’an Ramadhāna
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.”
- Penjelasan Gramatikal:
- Digunakan kata “min” atau “‘an” untuk menunjukkan waktu.
6. Niat Puasa dari Kitab Asnal Mathalib (Versi 2)
نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ
Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati ‘an fardhi Ramadhāna
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.”
- Penjelasan Gramatikal:
- Lebih lengkap dan rinci dalam menyebutkan waktu dan kewajiban.
Redaksi yang Sulit Diterima dalam Gramatika Arab
Terdapat redaksi pelafalan yang dianggap sulit diterima menurut kaidah ilmu nahwu (gramatika Arab), yaitu:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةُ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanatu lillāhi ta‘ālā
- Alasan Gramatikal:
- Kata “Ramadhani” sebagai mudhaf tidak seharusnya diakhiri dengan “sanatu” yang kedudukan gramatikalnya tidak jelas.
- Sulit ditarik ke arah mana pun dalam ta’wil gramatikal.









Comment