JAKARTA – Minat baca orang Indonesia itu rendah, tak hanya di level bawah, level menengah atas pun tak jauh beda. Yang menengah atas hanya fokus pada bacaan-bacaan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka saja. Sehingga pengetahuan umum mereka kurang.

Di tengah tuduhan tingkat literasi rendah, beberapa anak muda membuat insiatif untuk mendekatkan banyak orang dengan buku. Mereka membentuk klub-klub baca.

Setiap bulan, beberapa orang datang berkumpul di satu tempat di Jakarta, membawa buku bacaan mereka masing-masing. Pada pukul 10 pagi, tanpa aba-aba, mereka mengeluarkan buku – atau e-reader – dari tas mereka, dan mulai membaca dalam senyap.

Satu jam kemudian, mereka foto bersama, kemudian bubar. Itulah yang terjadi di setiap sesi ‘Baca Bareng’.

Tidak seperti klub buku pada umumnya, mereka tidak mensyaratkan keanggotaan, tidak menentukan buku yang harus dibaca, dan tidak mengharuskan sosialisasi.

“Baca Bareng itu komunitas yang bukan komunitas beneran ya karena di ‘Baca Bareng’ itu tidak mengikat, “ kata inisiatornya, Hestia Istivani saat sesi Baca Bareng di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca Bareng sebagai klub buku yang inklusif tidak mensyaratkan keanggotaan dan tidak menentukan jenis bacaan.

Perempuan berusia 30 tahun asal Surabaya itu bermaksud membuat gerakan membaca yang inklusif. Artinya, peserta bebas untuk membaca apapun yang mereka mau entah itu novel, komik, buku non-fiksi, bahkan katalog produk.

“Inklusivitas itu ingin mengenalkan bahwa membaca itu terbuka untuk siapapun, enggak ada batasan kelas, enggak ada batasan gender, enggak ada batasan usia, dan kalaupun membaca hanya untuk hiburan cuma buat melepas penat itu juga enggak apa-apa,” kata Hestia yang sudah delapan tahun merantau di Jakarta.

Inklusivitas itu juga dicerminkan dari pilihan tempat untuk sesi baca senyap. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, yang baru dibuka kembali pada September 2022 setelah direvitalisasi, adalah lokasi yang terbilang strategis karena dekat dengan halte Transjakarta dan stasiun MRT.

Selama satu jam, orang-orang khusyuk membaca dengan latar belakang suara lalu lintas, sesekali diselingi deru knalpot kendaraan bermotor.

Fadli, 26 tahun, jauh-jauh datang dari Depok ke Jakarta Selatan untuk ikut sesi Baca Bareng, dan menamatkan novel On Earth We’re Briefly Georgious dari penulis Ocean Vuong.

Ia mengatakan bahwa membaca bersama orang lain membuatnya lebih semangat untuk menambah halaman bacaannya. “Karena kita kan ngumpul bareng-bareng, orang yang memang hobi atau suka baca buku,” ujarnya.

Beberapa klub buku dibentuk untuk melawan anggapan tentang minat baca rendah. Salah satunya Bookclan, yang berkumpul setiap hari Sabtu di lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Klub yang baru dibentuk pada awal 2023 itu juga menyebut dirinya sebagai kelompok yang inklusif.

Bagi Bookclan, sosialisasi dan rasa kekeluargaan antara sesama pembaca buku adalah hal yang penting untuk menjaga minat baca. Satu jam pertama pertemuan Bookclan diisi dengan sesi perkenalan dan sosialisasi, diikuti dengan satu jam membaca senyap.

“Aku enggak mau kita buat klub buku yang cuma baca kemudian bubar. Aku pengen ada kekeluargaan, ada komunitas yang terbentuk… Kalau kita mau ningkatin minat baca ya, satu orang dengan orang lain harus kenal supaya merasa tergerak juga untuk baca lebih lagi,” kata inisiator Bookclan, Reynaldi.

Rutin bertemu setiap pekan, Reynaldi menyatakan Bookclan tidak pernah libur sejak didirikan bahkan pada tanggal merah. Jadwal pertemuan yang rutin itu terinspirasi dari gerakan-gerakan lingkungan.

“Kita kan secara data minat baca kita sangat rendah tapi gerakan soal pendidikan itu enggak segreget gerakan lingkungan. Karena itu aku buat tiap minggu, berapa banyak pun orang yang datang,” ungkapnya.

Anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah telah dibantah oleh banyak pegiat literasi. Mereka mengatakan problem sebenarnya adalah minimnya akses terhadap buku-buku berkualitas.

“Sebenarnya minat baca tinggi tapi aksesnya minim, bahkan sampai enggak ada. Itu yang akhirnya membuat orang-orang terlena dengan membaca yang ‘ya udah [membaca] kalau buku ada aja’ … Gimana mau baca? Bukunya enggak ada,” kata Adi Sarwono, inisiator gerakan literasi Busa Pustaka di Provinsi Lampung.

Awalnya terdorong untuk membantu anak-anak korban narkoba, Adi mendirikan Busa Pustaka pada 2019. Dia mengubah rumah dua lantainya menjadi perpustakaan untuk anak-anak dan remaja, serta menggunakan mobilnya sendiri untuk perpustakaan keliling yang ia bawa ke daerah-daerah pelosok di Lampung.

“Antusiasme satu sekolah baca buku di koridor kelas jadi penyemangat perjalanan,” kata Adi, yang sering tampil di publik dengan kostum Mario dari Super Mario Brothers.

Kendati di Indonesia sudah ada penyedia buku digital, termasuk Perpusnas dengan aplikasi iPusnas, Adi berkata kebanyakan warga di daerah pelosok masih membutuhkan buku-buku fisik. Pasalnya, Indonesia masih punya masalah kesenjangan akses internet.

Sementara itu meskipun perpustakaan daerah di Lampung juga memiliki mobil untuk perpustakaan keliling, Adi menilai program tersebut “nyaris enggak jalan karena anggaran”.(SW)