Perang Padri ini bisa terjadi karena adanya pertentangan yang datang dari kaum Padri. Kaum Padri menginginkan agar hukum di daerahnya dapat dijalankan sesuia dengan syariat Islam dengan kaum kerjaan Pagaruyung. Situasi pada saat itu semakin mendesak, akhirnya kaum adat diketahui meminta bantuan Belanda yang kemudian resmi ikut berperang melawan kaum Padri.

Pada saat perang berlangsung, Belanda disebut sempat kesulitan melawan Imam Bonjol dan pasukannya. Belanda semakin merasa kesulitan karena pada saat itu juga harus memadamkan perang yang ada di daerah lain yaitu salah satunya perang Diponegoro.

Pada tahun 1824, ia menandatangani sebuah perdamaian dengan Belanda yang dikenal dengan Perjanjian Masang. Tetapi perjanjian perdamaian tersebut tidak berlangsung lama karena Belanda kembali menyerang.

Tahun 1833, kaum adat dan kaum Padri bersatu untuk melawan Belanda karena menyadari bahwa perang Padri tersebut hanyalah menyengsarakan rakyat. Kemudian benteng kaum Padri dikepung dan diserang selama hampir enam bulan.

Akhir Perang Padri 

Belanda menguasai Benteng Bonjol pada tanggal 16 Agustus 1837. Imam Bonjol ditangkap Belanda dan  diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat tanggal 25 Oktober 1837. Setelah itu, Ia dipindahkan ke Ambon yang kemudian diasingkan lagi ke Minahasa. Pada tanggal 8 November 1864 ia wafat di Minahasa.