Dua Kali Kalahkan Melbourne Victory, Persib Dipuji Pengamat Sepak Bola Asia
katamerdeka.com – Keberhasilan Persib Bandung mengalahkan Melbourne Victory dua kali, baik kandang maupun tandang, di ajang AFC Champions League Two (ACL 2) 2026-2027 mendapat perhatian pengamat sepak bola Asia, Paul Williams. Menurut dia, hasil tersebut memperlihatkan perbedaan ambisi antara klub-klub Australia dan sejumlah klub di Indonesia serta Asia Tenggara.
Persib kembali menaklukkan Melbourne Victory dengan skor 2-1 pada pertandingan matchday keempat Grup ACL 2 2026-2027 di Melbourne, Rabu (4/11/2026) siang WIB.
Tuan rumah sempat unggul lebih dahulu melalui gol bunuh diri Julio Cesar pada menit ke-71. Namun, Maung Bandung mampu membalikkan keadaan setelah Luka Menalo mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-85.
Balsa Sekulic kemudian menjadi penentu kemenangan Persib melalui golnya pada menit ke-90.
Hasil tersebut membuat Persib menyapu bersih empat pertandingan fase grup dengan kemenangan. Selain itu, Maung Bandung sukses mencatatkan kemenangan kandang dan tandang atas Melbourne Victory, klub yang musim lalu finis di posisi keempat Liga Australia.
Persib juga mencatatkan pencapaian penting sebagai tim Indonesia pertama yang mampu meraih kemenangan tandang di Australia dan Korea Selatan setelah sebelumnya menaklukkan FC Seoul, juara Liga Korea, di kandangnya sendiri.
Pengamat sepak bola Asia sekaligus salah satu pendiri situs dan podcast The Asian Game, Paul Williams, menilai keberhasilan Persib tidak terlepas dari perbedaan arah pengembangan klub di Australia dan Asia Tenggara.
Menurut Williams, kondisi finansial menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan klub-klub di kompetisi A-League Australia. Banyak klub mengalami kerugian finansial selama bertahun-tahun, sementara batas gaji pemain mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pemain berkualitas memilih melanjutkan karier ke luar negeri karena tawaran finansial yang lebih menarik.
Williams mengatakan klub-klub Australia kini cenderung mengandalkan pemain muda untuk kemudian dijual ketika mendapatkan kesempatan.
“Secara bertahap, pendekatan ini punya dampak besar kepada kualitas liga kami,” ujar Williams kepada media setelah pertandingan Persib melawan Melbourne Victory.
“Gaji-gaji yang bisa ditawarkan sekarang jauh lebih sedikit daripada 10 tahun lalu, jadi itu juga berpengaruh ke kualitas pemain asing yang bermain di liga kami.”
Ia juga menyoroti perbedaan regulasi pemain asing antara kompetisi Australia dan sejumlah liga di Asia Tenggara.
Klub-klub seperti Persib Bandung, Buriram United, dan Johor Darul Ta’zim dinilai memiliki keleluasaan lebih besar dalam memanfaatkan pemain asing sesuai regulasi kompetisi masing-masing.
Sebaliknya, klub-klub Australia masih dibatasi maksimal lima pemain asing. Bahkan, tidak semua klub mampu memenuhi kuota tersebut.
“Saya pikir ada kekurangan ambisi di antara klub-klub Australia saat ini. Mereka tampak puas hanya bertahan dan menjalani keadaan,” kata Williams.
Ia menilai kemenangan Persib atas Melbourne Victory menjadi gambaran nyata perbedaan pendekatan tersebut.
“Saya pikir tak ada klub Australia yang punya ambisi sama seperti Persib dan klub-klub Asia Tenggara lain,” ujarnya.
Williams menilai keberhasilan Persib bukan fenomena tunggal. Menurut dia, sejumlah klub Asia Tenggara juga mulai menunjukkan perkembangan dan mampu bersaing dengan klub-klub besar Asia.
Ia mencontohkan kemenangan Cong An Hanoi atas klub China, Shanghai Port, di kompetisi ACL Elite.
Selain itu, Lion City Sailors dari Singapura berhasil mengalahkan Adelaide United, sedangkan klub Kamboja Svay Rieng mampu menahan imbang Shanghai Shenhua.
Menurut Williams, hasil-hasil tersebut menunjukkan semakin besarnya ambisi klub-klub Asia Tenggara untuk meningkatkan kualitas dan memperkuat posisi mereka di kompetisi antarklub Asia.
“Klub-klub ini punya ambisi bertumbuh, untuk menjadi lebih dari mereka sekarang, menjadi klub paling elite sesuai dengan kemampuan mereka baik dalam konteks domestik dan konteks antarklub Asia,” ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari hasil pertandingan, tetapi juga dari meningkatnya investasi klub terhadap fasilitas, skuad, dan perekrutan pemain berkualitas.
Persib menjadi salah satu klub yang menurutnya berada di garis depan perkembangan tersebut.
Williams secara khusus menyoroti langkah Persib merekrut sejumlah pemain diaspora yang sebelumnya berkarier di Eropa, seperti Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Sandy Walsh, dan Eliano Reijnders.
Kehadiran para pemain tersebut dinilai memperlihatkan keseriusan Persib dalam membangun tim yang lebih kompetitif di level Asia.
“Persib menunjukkan ambisi untuk menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sebelumnya,” ujar Williams.
Sebaliknya, ia menilai hasil pertandingan melawan klub-klub Asia Tenggara menjadi gambaran tantangan yang sedang dihadapi sepak bola Australia.
“Hasil-hasil tadi menunjukkan betapa buruk sepak bola Australia ini sekarang dan arah yang mereka tuju,” katanya.
Meski mengaku kecewa melihat kondisi sepak bola Australia, Williams justru menyambut positif perkembangan klub-klub Asia Tenggara.
Ia mengatakan ambisi untuk berkembang, meningkatkan kualitas tim, dan bersaing di level yang lebih tinggi merupakan modal penting bagi kemajuan sepak bola Asia secara keseluruhan.
“Berbicara dari sudut pandang orang Australia, saya sedih. Mengecewakan melihat sepak bola Australia jadi seperti ini,” ujarnya.
Namun, ia mengaku senang melihat semakin banyak klub Asia Tenggara yang memiliki keinginan untuk tumbuh dan berkembang.
“Sebaliknya, saya senang melihat klub-klub Asia Tenggara karena saya cinta dengan klub yang punya ambisi, yang ingin bertumbuh, dan menjadi versi lebih baik,” katanya.
“Saya senang untuk Persib, saya senang untuk Lion City, saya senang untuk Svay Rieng, semua klub yang menunjukkan ambisi karena pada akhirnya, itu akan jadi hal bagus bagi sepak bola Asia secara umum,” tutup Williams.







Comment