Pentingnya Tidur Nyenyak dan REM untuk Menjaga Kesehatan Otak dari Risiko Alzheimer
katamerdeka.com – Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan otak. Sebuah studi tahun 2025 yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan bahwa kualitas tidur yang rendah terutama pada fase tidur nyenyak dan fase REM berkaitan dengan perubahan struktur otak yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer.
Penelitian tersebut menganalisis data tidur dari 270 orang dengan usia rata-rata 61 tahun yang tidak memiliki riwayat stroke, demensia, maupun trauma otak. Para peneliti kemudian memantau kondisi otak para peserta selama lebih dari satu dekade untuk melihat perubahan yang mungkin terjadi.
Kurangnya tidur nyenyak dapat melemahkan bagian penting otak
Siklus tidur manusia terdiri dari beberapa tahap, termasuk tidur nyenyak atau slow-wave sleep (SWS) dan fase rapid eye movement (REM). Pada tahap tidur nyenyak, tubuh memasuki fase pemulihan penting: denyut jantung, pernapasan, dan aktivitas otot menurun, sementara otak memproses fungsi penting seperti memori dan pembelajaran.
Namun penelitian menemukan bahwa orang yang mengalami kekurangan fase tidur nyenyak cenderung memiliki volume otak yang lebih kecil pada area tertentu yang berkaitan dengan perkembangan Alzheimer.
Peneliti utama studi tersebut, Gawon Cho, peneliti pascadoktoral di Yale School of Medicine, menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas saraf selama tidur dapat memengaruhi kesehatan otak.
“Temuan kami memberikan bukti awal bahwa berkurangnya aktivitas saraf selama tidur dapat berkontribusi pada penyusutan otak, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan risiko penyakit Alzheimer,” kata Cho, seperti dikutip Best Life, Sabtu (14/3/2026).
Selain tidur nyenyak, fase REM juga memiliki peran penting bagi kesehatan otak. Pada fase ini, aktivitas otak meningkat dan seseorang biasanya mengalami mimpi yang sangat jelas.teknologi
Para ahli menjelaskan bahwa tahap REM sangat penting untuk fungsi kognitif seperti konsentrasi, kreativitas, dan memori. Menurut Sleep Foundation, fase REM merupakan tahap penting untuk menjaga kemampuan berpikir dan kesehatan otak secara keseluruhan.
Karena itu, kurangnya tidur REM dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi otak dan meningkatkan risiko gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Penelitian menemukan perubahan struktur otak
Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan pemindaian otak menggunakan teknologi pencitraan canggih.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengalami kekurangan tidur nyenyak dan REM memiliki volume otak yang lebih kecil pada beberapa area penting. Salah satu wilayah yang terdampak adalah bagian inferior parietal, yaitu area otak yang diketahui mengalami perubahan lebih awal pada penderita Alzheimer.
Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas tidur dapat berperan dalam perubahan struktur otak yang terjadi secara bertahap seiring bertambahnya usia.
Cho mengatakan temuan tersebut penting karena membantu para ilmuwan memahami bagaimana kebiasaan tidur dapat memengaruhi perkembangan Alzheimer.
“Hasil ini penting karena membantu menjelaskan bagaimana kekurangan tidur, yang sering terjadi pada orang dewasa paruh baya dan lansia, dapat berkaitan dengan perkembangan Alzheimer dan gangguan kognitif,” ujarnya.
Memperbaiki pola tidur bisa menjadi langkah pencegahan
Meski tidur nyenyak bukanlah obat untuk Alzheimer, para ahli menilai bahwa memperbaiki kualitas tidur dapat menjadi salah satu langkah untuk menurunkan risiko penyakit tersebut.
Cho menjelaskan bahwa pola tidur yang baik dapat menjadi faktor yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi risiko demensia.
“Struktur tidur mungkin merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk penyakit Alzheimer dan demensia terkait, sehingga membuka peluang untuk intervensi yang dapat menurunkan risiko atau menunda munculnya penyakit,” katanya.
Sementara itu, ahli saraf preventif Richard Issacson mengatakan bahwa durasi tidur juga berperan penting untuk mendapatkan fase tidur yang cukup.
“Semakin lama seseorang tidur, biasanya semakin banyak fase REM dan tidur nyenyak yang akan mereka dapatkan,” ujar Issacson.
Karena itu, para ahli menyarankan orang dewasa untuk memprioritaskan kualitas tidur, seperti menjaga jadwal tidur yang teratur, mengurangi paparan layar sebelum tidur, dan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman.
Dengan kebiasaan tidur yang lebih sehat, risiko gangguan kognitif di masa depan dapat ditekan.






Comment