katamerdeka.com — Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri periode 1999–2000, Kwik Kian Gie, menghembuskan napas terakhir pada usia 90 tahun, Senin malam. Kepergian ekonom dan tokoh politik senior ini meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga besar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI-P, Said Abdullah, menyampaikan rasa duka cita yang tulus. “Kami kehilangan seorang ekonom gigih dan guru bangsa yang tak pernah lelah memperjuangkan idealisme hingga akhir hayatnya,” ujar Said melalui siaran pers, Selasa (29/7/2025).

Said menegaskan, Kwik Kian Gie adalah penerus pemikiran Bung Karno dan Bung Hatta dalam menjaga kemandirian ekonomi Indonesia. “Kami tidak pernah meragukan nasionalisme beliau. Pak Kwik sangat peduli bagaimana sumber daya alam kita dikelola secara bijaksana,” tambahnya.

Dalam kenangannya, Said mengenang pertemuan pertama mereka pada 1988 di sebuah rapat koordinasi di kantor DPD PDI Jawa Timur. Saat itu, Kwik hadir sebagai pembicara utama sekaligus Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan PDI Pusat. “Pak Kwik dengan tegas mengkritisi kondisi ekonomi kita yang masih bergantung pada impor, menyebut kita ibarat ‘bangsa perakit’ tanpa kemandirian,” kata Said.

Said juga mengapresiasi konsistensi Kwik dalam politik dan prinsipnya, baik saat berada di pemerintahan maupun di luar. “Idealismenya adalah pondasi teguh yang membimbing setiap langkahnya. Cinta tanah airnya tak pernah luntur,” ujar Said.

Salah satu momen penting dalam karier Kwik adalah saat krisis moneter 1997/1998. Ia dikenal sebagai sosok yang vokal menolak skema penyelesaian utang obligor yang diajukan IMF dan disetujui oleh beberapa pejabat kabinet. Menurut Kwik, aset yang disita oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) jauh lebih kecil dibandingkan utang yang harus dilunasi. “Meskipun kalah dalam keputusan itu, Pak Kwik tetap berdiri tegak dengan keyakinan pada kebenaran,” kenang Said.

Pada 2004, saat Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden, Kwik yang menjadi Kepala Bappenas, diberi mandat strategis untuk mengelola Blok Migas Cepu. Ia bersama Pertamina merancang kontrak kerja sama operasi yang menempatkan Exxon Mobil sebagai mitra subordinat, sebuah langkah yang diperkirakan membawa keuntungan besar bagi Indonesia. Namun, rencana tersebut belum terealisasi hingga masa jabatan Megawati berakhir.

Said menyatakan, keluarga besar PDI-P sangat berduka atas kepergian Kwik Kian Gie dan mendoakan agar almarhum mendapat tempat mulia di sisi Tuhan. “Doa kami selalu menyertai beliau, guru bangsa yang penuh dedikasi ini,” tutup Said penuh haru.